Sanggar Metta Budhaya

PROFIL

1. Tinjauan Umum

Situasi setiap bangsa senantiasa ditentukan oleh pengalaman-pengalaman sejarahnya di masa lampau, persoalan-persoalan yang dihadapi di masa kini, dan harapan-harapannya mengenai hari depan. Dalam kerangka berpikir ini pertama-tama kita dihadapkan pada adanya berbagai lingkungan budaya yang masing-masing mempunyai sifat dan ciri tersendiri. Adanya keanekaragamn kebudayaan di dalam lingkungan kebangsaan Indonesia telah memberikan kepada bangsa Indonesia kekayaan pernyatan budaya yang berlimpah seperti diisyaratkan oleh semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Demikianlah kuatnya rasa relatifitas dan toleransi bangsa kita.
Kebudayaan regional yang kita miliki masing-masing merupakan cara-cara bangsa Indonesia menghadapi persoalan-persoalannya di masa lampau, termasuk yang timbul dari pertemuannya dengan budaya asing. Kita telah belajar banyak dari sejarah akan besarnya pengaruh asing, tetapi kita juga telah membuktikan kebesaran bangsa Indonesia dalam mencernakan pengaruh asing itu.
Munculnya bangsa Indonesia sebagai suatu bangsa merdeka telah membawa kita kembali berhadapan dengan persoalan baru dan kebudayaan asing yang baru pula. Di samping itu telah timbul di dalam hati kita tekad yang kuat untuk menjadi suatu masyarakat yang adil dan makmur pada tingkat kehidupan yang lebih baik. Untuk mencapai tujuan itu mau tidak mau diperlukan suatu upaya yang terpadu dari seluruh lapisan masyarakat dengan arah yang sudah tertentu. Setiap orang, kelompok, ataupun lembaga harus secara sungguh-sungguh mengembangkan dirinya menurut kedewasaan berpikir masing-masing sesuai jati diri bangsa Indonesia.

2. Tinjauan Khusus

Telah kita ketahui bersama bahwa kesenian menempati peranan penting dalam kebudayaan Indonesia. Dengan alasan melangsungkan kesinambungan sejarah (historical continued) bangsa kita, maka kita tidak perlu mengurangi peranan itu. Justru yang diperlukan adalah meningkatkan peranan itu pada masa kini dan masa yang akan datang. Untuk mewujudkan tekad itu perlu ditingkatkan kedekatan hubungan antara kesenian, seniman, dan masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan kesenian akan menjalin dan mempererat hubungan antara kesenian, seniman, dan masyarakat. Frekuensi keterlibatan kesenian yang memadai menyediakan kemungkinan bagi tumbuh suburnya perkembangan kesenian yang pada gilirannya akan menghidupkan suasana berkebudayaan nasinal. di lain pihak dapat dibina pula persaudaraan di antara semua pihak yang mendukungnya.
Sanggar Seni Metta Budaya sebagai kelompok kesenian yang dalam hal ini berdiri sebagai kelompok orang-orang yang menjalin hubungan dengan landasan kesenian khususnya tari tradisi, berusaha sekuat kemampuan untuk berperan aktif dalam upaya seperti tersebut di atas. Sedangkan dalam pelaksanaannya hendak dicapai kemajuan dalam hubungan antarindividu dan juga kesenian itu sendiri, yang dalam kaitan ini adalah seni tari tradisi Jawa. SEcara khusus yang dimaksud hubungan antara pengurus sanggar, pelatih, siswa (yang terdiri atas anak-anak), orangtua/wali siswa, dan seluruh pihak yang berhubungan dengan sanggar baik secara langsung maupun tidak langsung. Diharapakn bahwa kesenian Jawa menjadi kegiatan yang sangat positif dalam rangka menjalin persaudaraan yang lebih luas.

TUJUAN KEGIATAN

Dalam menjalankan kegiatan sebagaimana digariskan, Sanggar Seni Metta Budaya mempunyai tujuan:

  1. meningkatkan persaudaraan ke lingkup yang lebih luas.
  2. pelestarian budaya sebagai salah satu semangat Sanggar Seni Metta Budaya mendapat dukungan dari kalangan luas.
  3. menciptakan suasana berkesenian yang mendukung terbentuknya kepribadian pendukungnya yang diharapkan berpengaruh bagi terbentuknya kepribadian bangsa.

PROGRAM KERJA

Program-program yang selama ini dijalankan dan menjadi semacam garis-garis kebijaksanaan, dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Latihan Rutin
Latihan rutin bertujuan mengakrabkan seseorang dengan medium dan teknik yang menjadi sarana utama suatu jenis kesenian. Dalam tari tradisi Jawa sebagaimana diketahui, latihan mempunyai kegunaan bermacam-macam. Salah satu ciri tari tradisi ialah terdapatnya banyak aturan dan patokan. Latihan yang kurang memadai tidak memungkinkan penguasaan teknis seperti hasta sawanda, patrap beksa, dan sebagainya. Penguasaan segi-segi teknis dan medium hanya dapat dicapai dengan latihan yang cukup. Inilah sebabnya mengapa latihan rutin dikatakan sebagai tulang punggung hidup suburnya seni tari.
Yang sudah berlangsung, latihan rutin diselenggarakan tiga kali seminggu ialah hari Selasa, Rabu, dan Jumat. Seluruh murid yang berjumlah kurang lebih 200 orang dibagi dua. Separoh yang pertama berlatih pada hari Selasa dan separoh lagi pada hari Rabu. Pada hari Jumat seluruh siswa berkumpul untuk latihan bersama. waktu latihan juga dibagi dua untuk setiap harinya. Sesi pertama dimulai pukul 14.30 dan berakhir pada pukul 16.00 wib., sedangkan sesi kedua dari pukul 16.00 hingga 17.30 wib.

2. Pementasan
Rangkaian dari latihan adalah pementasan, karena pementasan menjadi salah satu tujuan latihan. Oleh karena itu frekuensi pementasan ikut menentukan frekuensi latihan. dalam pementasan, korelasi antara medium pokok dan medium bantu lebih dapat dirasakan. Selain itu jaringan penyelenggaraan pementasan seperti tata pentas, tata kerja produksi dan unsur-unsur pendukungnya sekaligus menjadi pendukung suasana berkesenian. Sejarah berdirinya Metta Budaya justru dimulai dari pementasan-pementasan. Selanjutnya pementasan terus dilakukan baik memenuhi permintaan lembaga/perseorangan maupun atas inisiatif sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: