Seni Tari

SENI TARI JAWA TENGAH

Tari sering disebut juga ”beksa”, kata “beksa” berarti “ambeg” dan “esa”, kata tersebut mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan, yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh.
Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan / diekspresikan melalui gerak-gerak organ tubuh yang ritmis, indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya. Seni tari yang merupakan bagian budaya bangsa sebenarnya sudah ada sejak jaman primitif, Hindu sampai masuknya agama Islam dan kemudian berkembang. Bahkan tari tidak dapat dilepaskan dengan kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan.

Surakarta merupakan pusat seni tari kemudian terkenal dengan Tari Gaya Surakarta. Dengan alasan melangsungkan kesinambungan sejarah (historical continued) bangsa kita, maka kita tidak perlu mengurangi peranan itu. Justru yang diperlukan adalah meningkatkan peranan itu pada masa kini dan masa yang akan datang. Untuk mewujudkan tekad itu perlu ditingkatkan kedekatan hubungan antara kesenian, seniman, dan masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan kesenian akan menjalin dan mempererat hubungan antara kesenian, seniman, dan masyarakat. Frekuensi keterlibatan kesenian yang memadai menyediakan kemungkinan bagi tumbuh suburnya perkembangan kesenian yang pada gilirannya akan menghidupkan suasana berkebudayaan nasinal. di lain pihak dapat dibina pula persaudaraan di antara semua pihak yang mendukungnya. Sanggar Seni Metta Budaya sebagai kelompok kesenian yang dalam hal ini berdiri sebagai kelompok orang-orang yang menjalin hubungan dengan landasan kesenian khususnya tari tradisi, berusaha sekuat kemampuan untuk berperan aktif dalam upaya seperti tersebut di atas. Sedangkan dalam pelaksanaannya hendak dicapai kemajuan dalam hubungan antarindividu dan juga kesenian itu sendiri, yang dalam kaitan ini adalah seni tari tradisi Jawa. Secara khusus yang dimaksud hubungan antara pengurus sanggar, pelatih, siswa (yang terdiri atas anak-anak), orangtua/wali siswa, dan seluruh pihak yang berhubungan dengan sanggar baik secara langsung maupun tidak langsung. Diharapakn bahwa kesenian Jawa menjadi kegiatan yang sangat positif dalam rangka menjalin persaudaraan yang lebih luas.

Dalam menjalankan kegiatan sebagaimana digariskan, Sanggar Seni Metta Budaya mempunyai tujuan:

  1. meningkatkan persaudaraan ke lingkup yang lebih luas.
  2. pelestarian budaya sebagai salah satu semangat Sanggar Seni Metta Budaya mendapat dukungan dari kalangan luas.
  3. menciptakan suasana berkesenian yang mendukung terbentuknya kepribadian pendukungnya yang diharapkan berpengaruh bagi terbentuknya kepribadian bangsa.

PROGRAM KERJA

Program-program yang selama ini dijalankan dan menjadi semacam garis-garis kebijaksanaan, dapat diuraikan sebagai berikut:

1.LatihanRutin
Latihan rutin bertujuan mengakrabkan seseorang dengan medium dan teknik yang menjadi sarana utama suatu jenis kesenian. Dalam tari tradisi Jawa sebagaimana diketahui, latihan mempunyai kegunaan bermacam-macam. Salah satu ciri tari tradisi ialah terdapatnya banyak aturan dan patokan. Latihan yang kurang memadai tidak memungkinkan penguasaan teknis seperti hasta sawanda, patrap beksa, dan sebagainya. Penguasaan segi-segi teknis dan medium hanya dapat dicapai dengan latihan yang cukup. Inilah sebabnya mengapa latihan rutin dikatakan sebagai tulang punggung hidup suburnya seni tari.
Yang sudah berlangsung, latihan rutin diselenggarakan tiga kali seminggu ialah hari Selasa, Rabu, dan Jumat. Seluruh murid yang berjumlah kurang lebih 200 orang dibagi dua. Separoh yang pertama berlatih pada hari Selasa dan separoh lagi pada hari Rabu. Pada hari Jumat seluruh siswa berkumpul untuk latihan bersama. waktu latihan juga dibagi dua untuk setiap harinya. Sesi pertama dimulai pukul 14.30 dan berakhir pada pukul 16.00 wib., sedangkan sesi kedua dari pukul 16.00 hingga 17.30 wib.

2.Pementasan  
Rangkaian dari latihan adalah pementasan, karena pementasan menjadi salah satu tujuan latihan. Oleh karena itu frekuensi pementasan ikut menentukan frekuensi latihan. dalam pementasan, korelasi antara medium pokok dan medium bantu lebih dapat dirasakan. Selain itu jaringan penyelenggaraan pementasan seperti tata pentas, tata kerja produksi dan unsur-unsur pendukungnya sekaligus menjadi pendukung suasana berkesenian. Sejarah berdirinya Metta Budaya justru dimulai dari pementasan-pementasan. Selanjutnya pementasan terus dilakukan baik memenuhi permintaan lembaga/perseorangan maupun atas inisiatif sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: